Kamis, 02 Juni 2011

METODE AMPEROMETRI (VOLTAMETRI) DAN APLIKASINYA (DETEKSI HIBRIDISASI DALAM BIOSENSOR ELEKTROKIMIA)


TUGAS KIMIA ANALITIK LANJUT


METODE AMPEROMETRI (VOLTAMETRI)
DAN APLIKASINYA (DETEKSI HIBRIDISASI DALAM BIOSENSOR ELEKTROKIMIA)




D
I
S
U
S
U
N

OLEH:

                         NAMA           : MASMEI SIALLAGAN
                         NIM              : 809142028
                         KELAS          : PENDIDIKAN KIMIA-B



PRODI MAGISTER PENDIDIKAN KIMIA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
MEDAN
2010


DAFTAR ISI
Daftar Isi…………………………………………………………………………………...           1  

I.    Pendahuluan………………………………………………………….......................           2
II.   Teknik Voltametri ....…………………………………………………………………             4           
III.  Biosensor dan Aplikasinya……….…...…………………………………………….              5
IV.  Penutup………………………………….……………..….…………………………              31

Daftar Pustaka …………………………………………………………………………..              32


METODE AMPEROMETRI (VOLTAMETRI) DAN APLIKASINYA
(DETEKSI HIBRIDISASI DALAM BIOSENSOR ELEKTROKIMIA)

I.        Pendahuluan

Voltametri

Voltametri merupakan elektrolisis dalam ukuran mikroskala dengan menggunakan mikro elektroda kerja, disebut juga teknik arus voltase. Potensial dari mikro elektroda kerja divariasikan dan arus yang dihasilkan dicetak sebagai fungsi dari poetnsial. Hasil cetakan ini disebut voltamograf.
Voltametri mempelajari hubungan voltase arus-waktu selama elektrolisis dilakukan dalam suatu sel, di mana suatu elektroda mempunyai luas permukaan yang relative besar, dan elektroda yang lain (elektroda kerja) mempunyai luas permukaan yang sangat kecil dan seringkali dirujuk sebagai mikroelektroda: lazimnya teknik ini mencakup pengkajian pengaruh perubahan voltase pada arus yang mengalir di dalam sel. Mikroelektroda ini biasanya dibuat dari bahan tak reaktif yang menghantar listrik seperti emas, platinum atau karbon, dan dalam beberapa keadaan dapat digunakan suatu elektroda merkurium tetes (D.M.E); untuk kasus istimewa ini teknik itu dirujuk sebagai polarografi (Bassett, J.,1994).
Voltametri merupakan metoda elektrokimia yang mengamati perubahan arus dan potensial. Potensial divariasikan secara sistematis sehingga zat kimia tersebut, mengalami oksidasi dan reduksi dipermukaan elektroda. Dalam voltametri, salah satu elektroda pada sel elektrolitnya terpolarisasi. Penelahan pada sistem tersebut diikuti dengan kurva arus tegangan. Metode ini umum digunakan untuk menentukan komposisi dan analisis kuantitatif larutan.
Dalam sistem voltametri ada yang disebut dengan siklik voltametri. Voltametri ini merupakan tehnik voltametri dimana arus diukur selama penyapuan potensial dari potensial awal ke potensial akhir dan kembali lagi potensial awal atau disebut juga penyapuan (scanning) dapat dibalik kembali setelah reduksi berlangsung. Dengan demikian arus katodik maupun anodik dapat terukur. Arus katodik adalah arus yang digunakan pada saat penyapuan dari arus yang paling besar menuju arus yang paling kecil dan arus anodik adalah sebaliknya (Khopkar, 1985).
Sel voltametri, terdiri dari 3 elektroda yaitu elektroda pembanding, elektroda kerja, dan elektroda pembantu. Elektroda kerja pada voltametri tidak bereaksi, akan tetapi merespon elektroda aktif apa saja yang ada dalam sampel. Pemilihan elektroda bergantung pada besarnya range potensial yang diinginkan untuk menguji sampel (Ewing, 1975).
Voltametri sama halnya dengan potensiometer, yaitu mempunyai elektroda kerja dan elektroda pembanding, bedanya pada voltametri ditambah dengan sebuah elektroda yaitu elektroda pembantu (auxillary electrode) sehingga voltameter mempunyai 3 buah elektroda pada amperometer elektroda pembanding yang mempunyai potensial yang sudah tetap sehingga kelebihan arus ditangkap oleh elektroda pembantu. Salah satu elektrodanya adalah elektroda merkuri/dropping mercury elektroda (DME) yang bertindak sebagai elektroda kerja. Elektroda pasangannya adalah elektroda kalomel jenuh (SCE) yang bertindak sebagai elektroda pembanding. SCE ini dapat juga digantikan oleh reservoir merkuri (Pungor,1995).

II.      Teknik Voltametri
a.    Polagrafi
Polarografi adalah suatu bentuk elektrolisis dalam mana elektroda kerja berupa suatu elektroda yang istimewa, sutau elektroda merkuri tetes, dan dalam mana direkam suatu kurva arus voltase (voltammogram). Seperti yang digunakan oleh kebanyakan pengarang, istilah polarografi adalah suatu kasus istimewa daripada voltametri dalam mana mikroelektrodanya adalah merkurium tetes. Karena sifat –sifat istimewa elektroda ini, polarografi jauh lebih meluas penggunaanya dibandingkan voltametri yang menggunakan mikroelektroda lain (Underwood, 1996). Polarogarfi digunakan secara luas untuk analisis ion –ion logam dan anion –anion anorganik, seperti IO dan NO . Gugus fungsi senyawa organik yang mudah teroksidasi atau tereduksi juga dipelajari dalam polarogarfi. Gugus fungsi yang digunakan meliputi karbonil, asam karboksilat, dan senyawa karbon yang memiliki ikatan rangkap (David, 2000).

b.   Hydrodynamic Voltametri
     Arus pada hydrodynamic voltametri diukur sebagai fungsi dari aplikasi potensial pada elektroda kerja. Profil potensial yang sama digunakan untuk polarografi, seperti sebuah pengamatan linear atau pulsa diferensial, digunakan dalam hydrodynamic voltametri. Hasil voltamogram yang identik untuk polarografi, kecuali untuk kekurangan arus menghasilkan osilasi dari penambahan tetes merkuri. Karena hydrodynamic voltametri tidak dibatasi untuk elektroda Hg, hydrodynamic voltametri bermanfaat untuk analisis reduksi atau oksidasi pada potensial yang lebih positif.

c.    Stripping Voltametri
     Salah satu dari teknik voltametri kuantitatif yang lebih penting adalah stripping voltametri, yang mana terdiri atas tiga teknik yang terkait : anoda, katoda, dan adsorpsi stripping voltametri. Sejak anodic stripping voltametri ditemukan aplikasi paling luas, kita mempertimbangkannya secara detail. Anodic stripping voltametri terdiri dari dua tahap Pertama pengontrolan potensial elektrolisis yang mana elektroda kerja, biasanya tetes merkuri atau lapis tipis merkuri, pada potensial katoda yang cukup untuk melapisi ion logam pada elektroda. Tahap kedua, potensial anoda di scan kearah potensial yang lebih positif. Ketika potensial pada elektroda kerja cukup positif analit dilepaskan dari elektroda, larutan dikembalikan dalam bentuk oksidasi. Arus selama tahap stripping dimonitor sebagai fungsi dari potensial, memberikan bentuk kenaikan pada puncak voltammogram yang sama. Puncak arus yang proporsional pada konsentrasi analit dalam larutan. Anodic stripping voltametri sangat sensitif pada percobaan, yang mana harus dikontrol dengan hati-hati jika hasilnya ingin akurat dan tepat.

d.   Amperometri
     Teknik voltametri terakhir yang dipertimbangkan adalah amperometri, yang mana potensial konstan diaplikasikan pada elektroda kerja, dan arus diukur sebagai fungsi waktu Karena potensial tidak discan, amperometri tidak mendorong kearah voltammogram.
Aplikasi yang penting dari amperometri adalah dalam kontruksi sensor kimia. Sensor amperometri yang pertama dikembangkan untuk melarutkan O dalam darah, yang mana dikembangkan pada 1956 oleh L.C. Clark.

III.             Biosensor dan Aplikasinya
Di abad milenium ini, segala sesuatu yang serba praktis dan mudah serta ditunjang oleh manfaatnya yang besar, pastilah di cari oleh setiap orang. Salah satunya adalah sensor. Aplikasi sensor yang paling sering kita jumpai adalah pintu otomatis yang terdapat di pusat-pusat perbelanjaan. Pintu akan terbuka dan tertutup secara otomatis apabila ada orang yang lewat. Contoh lainnya adalah detektor logam yang terdapat pada bandara udara, ataupun detektor asap yang terdapat dalam perkantoran.
Secara umum, sensor sebenarnya dibedakan menjadi dua jenis yaitu sensor fisika dan sensor kimia. Sensor fisika lebih kepada kemampuannya untuk mendeteksi kondisi besaran fisika seperti tekanan, gaya, tinggi permukaan air laut, kecepatan angin, dan sebagainya. Sedangkan sensor kimia merupakan alat yang mampu mendeteksi fenomena kimia seperti komposisi gas, kadar keasaman, susunan zat suatu bahan makanan, dan sebagainya. Termasuk ke dalam sensor kimia ini adalah biosensor. Dewasa ini, biosensor telah banyak diteliti dan dikembangkan oleh para peneliti dan industri, dan dalam dunia biosensor research, topik yang sedang berkembang sekarang ini adalah biosensor yang berbasis DNA (genosensor).

Biosensor
Biosensor sendiri didefinisikan sebagai suatu perangkat sensor yang menggabungkan senyawa biologi dengan suatu tranduser. Dalam proses kerjanya senyawa aktif biologi akan berinteraksi dengan molekul yang akan dideteksi yang disebut molekul sasaran. Hasil interaksi yang berupa besaran fisik seperti panas, arus listrik, potensial listrik atau lainnya akan dimonitor oleh transduser. Besaran tersebut kemudian diproses sebagai sinyal sehingga diperoleh hasil yang dapat dimengerti.
Biosensor yang pertama kali dibuat adalah sensor yang menggunakan transduser elektrokimia yaitu elektroda enzim untuk menentukan kadar glukosa dengan metode amperometri. Sejauh ini, biosensor dalam perkembangannya mempunyai tiga generasi yaitu generasi pertama; dimana biosensor berbasis oksigen, generasi kedua; biosensor menjadi lebih spesifik yang melibatkan “mediator” diantara reaksi dan transduser, dan terakhir generasi ketiga; dimana biosensor berbasis enzyme coupling.
Untuk produk-produk komersial dari teknologi biosensor, sekarang ini telah banyak diperjualbelikan. Biosensor eksternal/internal dalam bentuk chip bahkan telah diproduksi oleh perusahaan Amerika i-Stat, MicroChips, Digital Angel, VeriChip yang dapat ditanam dalam tubuh manusia. Beberapa Perusahaan Jepang pun turut berpartisipasi, seperti Matsushita Electric Industrial Co. dengan teknologi biosensornya yang mampu menetapkan secara cepat dan mudah pengukuran kolesterol darah. Tokyo Medical and Dental University dengan biosensor nafasnya yang memanfaatkan enzim monoamine oksidase A (MAO A) dan lain sebagainya. Tetapi secara umum untuk penguna biosensor, hampir 60% pengunanya berasal dari health-care industri.

Prinsip Kerja Biosensor
Pada dasarnya biosensor terdiri dari tiga unsur yaitu unsur biologi (reseptor biologi), transduser, dan sistem elektronik pemroses sinyal. Unsur biologi yang umumnya digunakan dalam mendesain suatu biosensor dapat berupa enzim, organel, jaringan, antibodi, bakteri, jasad renik, dan DNA. Unsur biologi ini biasanya berada dalam bentuk terimmobilisasi pada suatu transduser. Immobilisasi sendiri dapat dilakukan dengan berbagai cara baik dengan (1) adsorpsi fisik, (2) dengan menggunakan membran atau perangkap matriks atau (3) dengan membuat ikatan kovalen antara biomolekul dengan transduser.
Untuk transduser, yang banyak digunakan dalam suatu biosensor adalah transduser elektrokimia, optoelektronik, kristal piezoelektronik, field effect transistor dan temistor. Proses yang terjadi dalam transduser dapat berupa calorimetric biosensor, potentiometric biosensor, amperometric biosensor, optical biosensor maupun piezo-electric biosensor. Sinyal yang keluar dari transduser ini kemudian di proses dalam suatu sistem elektronik misalnya recorder atau komputer.
Berikut adalah contoh skema umum dari biosensor :


Gambar 1. Skema Umum Biosensor

Aplikasi Biosensor
Aplikasi biosensor pada dasarnya meningkat seiring dengan berkembangnya keperluan manusia dan kemajuan iptek. Tetapi secara umum tetap didominasi untuk aplikasi dibidang medis dan lingkungan hidup. Beberapa bidang aplikasi lainnya dapat dilihat pada tabel berikut :
No
Bidang Aplikasi
Kegunaan Biosensor
1.
Medis dan Farmasi
  • Mengontrol penyakit : diabetes, kolesterol, jantung dll
  • Diagnosis untuk : obat, metabolit, enzim, vitamin
  • Penyakit infeksi, alergi.
  • Studi efisiensi obat
2.
Lingkungan Hidup
  • Kontrol polusi
  • Monitoring senyawa-senyawa toksik di udara, air, dan tanah.
  • Penentuan BOD (biological oxygen demand)
3.
Kimia
  • Mengontrol kualitas makanan (mendeteksi kontaminasi mikroba, menentukan kesegaran, analisis lemak, protein dan karbohidrat dalam makanan.
  • Mendeteksi kebocoran, menentukan lokasi deposit minyak.
  • Mengecek kualitas udara di ruangan.
  • Penentuan parameter kualitas pada susu
4.
Pertanian
  • Mengontrol kualitas tanah.
  • Penentuan degradasi seperti biodegradable pada kayu dan makanan.
  • Mendeteksi keberadaan pestisida
5.
Militer
  • Mendeteksi zat-zat kimia dan biologi yang digunakan sebagai senjata perang (senjata kimia/biologi) seperti virus, bakteri patogen, dan gas urat syaraf.



Deteksi Hibridisasi Dalam  Biosensor DNA Elektrokimia 
1. Disain Biosensor Hibridisasi Elektrokimia
Pemilihan  asam  nukleat  untuk  preparasi  suatu  biosensor  berdasarkan  DNA terutama  bergantung  pada  apa  yang  akan  di-sense. Misalnya  jika  tujuan  biosensor untuk  mendeteksi  urutan  DNA,  suatu  ssDNA,  biasanya  oligonukleotida  pendek digunakan sebagai elemen biosensing. Dendrimer dan analog DNA dapat digunakan juga untuk tujuan ini.  Dua  aspek  yang  penting  dalam  pengembangan  biosensor  hibridisasi: sensitivitas  untuk  mendeteksi  konsentrasi  DNA  yang  serendah  mungkin,  dan selektivitas untuk dapat mendeteksi titik mutasi. Metode tradisional untuk mendeteksi terjadinya  hibridisasi  adalah  sangat  lambat  dan  memerlukan  preparasi  khusus.  Ini yang  menjadi  alasan  mengapa  akhir-akhir  ini  pengembangan  biosensor  hibridisasi secara elektrokimia menjadi sangat menarik. 
Suatu biosensor hibridisasi DNA elektrokimia pada dasarnya terdiri dari suatu elektrode  yang  dimodifikasi  dengan  ssDNA  yang  disebut  probe. Karena  elektrode dimodifikasi  dengan  probe,  maka  akan  menyebabkan  interaksi  dengan  sampel melalui  pengenalan  urutan  komplementernya,  di  antara  yang  lainnya,  di  bawah kondisi pH, kekuatan  ion, dan  temperatur  tertentu. Tahap selanjutnya adalah deteksi pembentukan double helix (Gambar 1). 
Tahap-tahap  pembuatan  biosensor  hibridisasi  elektrokimia  meliputi:
amobilisasi  probe,  hibridisasi  dan  deteksi  terjadinya  hibridisasi. Dalam makalah  ini akan dikemukakan mengenai deteksi  terjadinya hibridisasi dna antara probe dengan target.
DNA  diamobilisasi  agar  basa-basa  dapat  mengalami  biopengenalan selanjutnya  dengan  urutan  komplementernya.  Dalam  hal  ini,  sifat  elektrode memainkan  peranan  yang  sangat  penting.  Bagaimana  kompromi  basa-basa  untuk berinteraksi dengan permukaan elektrode dan  selanjutnya mereka dapat membentuk double helix. 


 Gambar 1. Skema umum tahapan operasi suatu biosensor hibridisasi DNA secara elektrokimia (Rivas et al. 2005).
 2. Deteksi Terjadinya Hibridisasi 
Kebanyakan  strategi untuk deteksi  terjadinya hibridisasi adalah berdasarkan: signal  redoks  asam  nukleat  yang  diamobilisasi  pada  permukaan  elektrode,  signal redoks  senyawa  yang  bergabung  secara  selektif  dengan  dsDNA,  perubahan  dalam sifat elektronik dari antarmuka, dan penggunaan skema amplifikasi yang berbeda.
2.1 Berdasarkan Signal Redoks Asam Nukleat 
Kelompok  Wang  (1998c)  mengajukan  suatu  biosensor  elektrokimia  untuk deteksi  DNA  Cryptosporydium  parvum  (29-mer  oligonukleotida), berdasarkan  penggunaan suatu probe oligonukleotida yang mengandung inosin sebagai pengganti guanin.  Suatu  inosin  hipoksantin  dapat  berinteraksi  dengan  sitosin  meskipun interaksinya  lebih  lemah dibanding guanin-sitosin, karena mereka dapat membentuk hanya  dua  ikatan  hidrogen.  Terjadinya  hibridisasi  dievaluasi  dari  signal  oksidasi guanin secara kronopotensiometri, signal berasal dari target. Lucarelli  et  al.  (2002) mengajukan  skema  untuk  deteksi  urutan  DNA  hasil amplifikasi  PCR  yang  berkaitan  dengan  apolipoprotein  E  (apoE).  Mereka menggunakan oligonukleotida 23-mer yang mengandung residu inosin sebagai probe yang  diadsorpsi  pada  SPE.  Pembentukan  dupleks  dideteksi  dari  signal  oksidasi guanin menggunakan SWV. Rasio  terbaik antara  signal untuk urutan komplementer dan  nonkomplementer  diperoleh  setelah  adsorpsi  15  µg/mL  urutan  probe  selama  2 menit pada potensial 0,50V dalam  larutan dengan kekuatan  ion yang  rendah. Untuk waktu yang kurang dari 10 menit mereka melaporkan  selektivitas yang  sangat baik,dengan limit  deteksi  2,6  x  1011 molekul  target  dalam  larutan  sampel  10  µL. Hibridisasi dilakukan pada  temperatur  ruang  selama 10 menit menggunakan  larutan hibridisasi 10 mL. Limit deteksi diperoleh 3,0 µg/mL target. Biosensor yang diajukan dapat membedakan dengan jelas antara DNA spesifik unruk apoE dan sampel kontrol negatif, dengan  suatu  reprodusibilitas 14% untuk oligonukleotida  target  sintesis dan 15-25%  untuk  sampel  sebenarnya.  Suatu  pengganggu  50%  dapat  teramati  untuk urutan yang mengandung satu basa mismatch. 
Kelompok Thorp melaporkan beberapa penelitian yang berkaitan dengan efek elektrokatalitik  Ru(bpy)32+ terhadap  oksidasi  guanin  menggunakan  elektrode  ITO (Napier dan Thorp 1997a; Aper et al. 1997b; Ontko et al. 1999; Armistead dan Thorp 2000,  2001;  Johnston  dan  Thorp  1996).  Napier  et  al.  (1997b)  mengajukan  suatu biosensor  elektrokimia  untuk  deteksi  terjadinya  hibridisasi  berdasarkan  transfer elektron guanin terhadap kompleks logam Ru(bpy)32+
Suatu urutan probe yang mengandung  inosin  sebagai pengganti guanin  telah digunakan  sebagai  probe  (Napier  dan Thorp  1997a). Dalam  penelitian  ini,  efisiensi biosensor  untuk  penentuan  produk  PCR  telah  ditunjukkan  untuk  pertama  kalinya menggunakan DNA genomik dari virus Herpes simplex tipe II (561 pb), Clostridium perfringens  (247  bp),  dan  RNA  genomik  HIV  (3.2  kb),  dengan  perbedaan  yang sangat  baik  terhadap  urutan  nonkomplementernya. Napier  dan  Thorp  (1997a)  juga menggunakan  ITO  yang  dimodifikasi  dengan  1,12-dodecanedicarboxylic  acid (DDCA)  dan  poli(C)  untuk  mendeteksi  hibridisasinya  dengan  poli(G). Monolayer DDCA mencegah  oksidasi  langsung  guanin  sementara  elektroaktivitas  tinggi  untuk  Ru(bpy)32+. Penentuan dilakukan dalam 50mM bufer fosfat pH 7.0 dari arus katalitik diperoleh setelah penambahan 200mM Ru(bpy)32+.

2.2. Berdasarkan Penggunaan Indikator Redoks 
Kompleks  logam dan senyawa organik dapat berinteraksi dengan DNA pada dasarnya berdasarkan dua mode pengikatan, kovalen dan nonkovalen. Dalam mode pengikatan  nonkovalen  adalah mungkin  untuk membedakan  interaksi  elektrostatik, interkalasi, pengikatan groove, dan  ikatan hidrogen  (Neidle 1994; Lippard dan Berg 1994).
Kriteria  pemilihan  indikator  redoks  adalah  berdasarkan  selektivitas  senyawa dengan  dsDNA  dibandingkan  dengan  ssDNA. Bahkan  jika  beberapa  senyawa  yang hanya berinteraksi groove dapat digunakan  juga untuk deteksi  terjadinya hibridisasi (Hashimoto  et  al.  1994a).  Indikator  redoks  yang  paling  efisien  adalah  senyawa-senyawa yang terinterkalasi ke dalam double helix. 
2.2.1 Kompleks Logam
2.2.1.a. Kompleks Osmium. 
Ju et al. (2003) melaporkan biosensor hibridisasi untuk deteksi fragmen DNA HBV,  diamplifikasi  PCR  menggunakan  di(2,2’-bipyridine)osmium  (III) ([Os(bpy)2Cl2]2+)  sebagai  indikator  redoks.  Penggunaan  metodologi  ini memungkinkan untuk mendeteksi 8,3 x 10-21 mol DNA HBV genomik asal (dengan voltametri siklik).   
Maruyama  et  al.  (2001)  mempelajari  perilaku  beberapa  kompleks  osmium sebagai  indikator  hibridisasi.  Kompleks  [Os(5,6-dmphen)3]2+,  (5,6-dmphen ¼  5,6-dimethyl-1,10-phenantroline) memiliki konstanta pengikatan lebih besar (4,2 x 105 M-1). Dengan keberadaan hibrid pada permukaan elektrode, signal DPV meningkat dari 3,76 µA ke 18,2 µA  sementara potensial bergeser dari 600 ke 672 mV. Hibridisasi dilakukan pada 80oC dalam  larutan bufer Tris pH 8,5 yang mengandung 1,0M NaCl diikuti dengan  tahap pendinginan perlahan hingga 37oC dengan pengadukan  selama 90 menit. Setelah itu, elektrode yang mengandung hibrid dicelupkan ke dalam larutan 10mM Tris-HCl + 10mM NaCl yang mengandung 5mM kompleks osmium selama 5 menit.  Transduksi  dilakukan  dalam  bufer  10mM  Tris-HCl  pH  7.0  pada  37oC menggunakan  SWV. Respons linier diperoleh dari 6,9 x 10-10 sampai 6,9 x 10-5 g/mL target.
Liu  dan Anzai  (2004) memperkenalkan PVP-[Os(5,6-dmphen)2Cl]2+sebagai interkalator  baru.  Senyawa  tersebut  adalah  suatu  derivat  poli(4-vinilpiridina)  yang diturunkan  dari  kompleks  aktif  redoks  osmium.  Probe  diperoleh  dengan  self-assembling  suatu  5’-mercaptohexyl-tagged  ssDNA  pada  elektrode  emas  diikuti dengan  penguapan  menjadi  6-mercapto-1-hexanol.  Hibridisasi  dilakukan  dengan penambahan oligonukleotida komplementer pada ujung elektrode dimodifikasi probe bertiolasi. Setelah 10 menit interaksi dengan indikator redoks (0,1 mM dalam larutan 9:1  air/etanol),  deteksi  elektrokimia  dilakukan  dengan  CV  dan  DPV.  Responsnya 1000  kali  lipat  lebih  sensitif  dibanding  yang  diperoleh  dengan  analog  monomer, dengan  limit  deteksi    0.1pM  atau  0.5  amol.  Biosensor    dapat  digunakan  kembali  setelah dicelupkan dalam bufer Tris-HCl yang mengandung 1mM EDTA pH 8.0 pada temperatur 100oC selama 6 menit.

2.2.1.b. Kompleks Kobalt. 
Tris(2,2-bipyridyl)cobalt  (III)  perchlorate  dan  tris(1,10-phenantroline)cobalt (III)  perchlorate  digunakan  oleh  kelompok  Mikkelsen  sebagai  indikator  redoks (Millan et al. 1994). Hibridisasi dilakukan pada temperatur 25oC untuk 50 µL larutan target  selama 15 menit pada permukaan elektrode karbon gelas dimodifikasi  secara kovalen  dengan  probe. Kinerja  lebih  baik  diperoleh  dengan  Co(bpy)33+.  Biosensor dapat  digunakan  kembali minimal  10  siklus  setelah  denaturasi  double  helix  dengan pemanasan dalam air pada temperatur 100oC selama 10 menit. Wang et al. (Wang et al. 1996c, 1997 g) melaporkan kegunaan Co(bpy)33+sebagai indikator redoks untuk transduksi  proses  hibridisasi  pada  CPE  dengan  PSA.  Mereka  mendisain  dan mengkarakterisasi  beberapa  biosensor  untuk  mendeteksi  oligonukleotida  sintesis yang berkaitan dengan DNA bakteri dan virus (Wang et al. 1996b; 1997d, e; 1999a).
Dalam  hal  DNA  HIV  (Wang  et  al.  1996b),  sensor  berdasarkan  pada  penggunaan oligonukleotida  pendek  (21-mer  atau  42-mer  single  stranded  oligonukleotida)  dari urutan long terminal repeat (LTR) HIV-1 US yang diamobilisasi pada elektrode pasta karbon  atau  screen  printed.  Hibridisasi  dilakukan  pada  temperatur  ruang  dengan potensial  konstan  0,50V  selama  5 menit  dalam  larutan  0.75M NaCl  +  bufer  fosfat 0,020M pH 7.0. Pengikatan Co(phen)33+dilakukan dalam  larutan bufer Tris-HCl pH 7,00  yang  mengandung  5,0  x  10-5M  indikator  selama  1  menit  pada  0,50  V. 
Transduksi  dilakukan  dalam  larutan  bufer  Tris  menggunakan  PSA  dengan  arus
konstan -8,0 µA. Signal analitik diperoleh dari reduksi Co(phen)33+ pada 140 mV. Gambar 2.  menunjukkan  pengaruh  waktu  hibridisasi  pada  signal kronopotensiometri  indikator redoks menggunakan 5,0 x 10-7M 21-mer DNA HIV-1 sebagai  target. Kronopotensiogram dalam garis putus-putus berkaitan dengan  signal dari blanko menunjukkan  reduksi  indikator  redoks yang bergabung dengan  ssDNA. Kronopotensiogram  dalam  garis  tebal  menunjukkan  signal  yang  diperoleh  setelah hibridisasi, dan dalam hal  ini  indikator  terakumulasi dalam double helix  tidak hanya secara elektrostatik,  tetapi  juga dengan  interkalasi. Signal analitik adalah perbedaan antara  dua  signal.  Signal  hibridisasi  meningkat  pada  awalnya,  kemudian  berhenti hingga kejenuhan molekul probe yang dapat dicapai pada permukaan elektrode. Limit deteksi  setelah 30 menit hibridisasi adalah 4x10-9 M. Suatu pendekatan yang mirip dilaporkan  untuk  deteksi DNA Mycobacterium  tuberculosis menggunakan  27-  dan 36-mer oligonucleotida dengan limit deteksi 3,4 x 10-9
M (Wang et al. 1997d). Untuk DNA  Cryptosporidium  parvum  (Wang  et  al.  1997e)  hibridisasi  dilakukan  dalam 0,5M NaCl + 1.0M guanidin. Limit deteksi dari 100 dan 50 ng/mL diperoleh setelah periode hibridisasi 15 dan 30 menit berturut-turut. Co(phen)33+  juga  telah digunakan sebagai  indikator  redoks  untuk  deteksi  DNA  C.  parvum  menggunakan  biosensor hibridisasi DNA SPE yang dapat dihaluskan dan dibarukan dengan limit deteksi dari 20 mg/L target setelah hibridisasi 20 menit (Wang et al. 1998a). Erdem et al. (1999) mengajukan  elektrode  pasta  karbon  yang  dimodifikasi  dengan  21-mer  oligonukleotida  untuk  deteksi  DNA  HBV  menggunakan  indikator  redoks Co(phen)33+.
            Wang  dan  koleganya  (1996d) melaporkan  untuk  pertama  kalinya  sifat  unik
yang  ditunjukkan  PNA  dalam  larutan  pada  saat  diamobilisasi  pada  permukaan elektrode.  Mereka  mengevaluasi  signal  kronopotensiometri  untuk  reduksi Co(phen)33+
 menggunakan dua probe yang berbeda, 15-mer DNA-CPE  dan 15-mer PNA-CPE  setelah  hibridisasi.  Dupleks  PNA-DNA  dapat  terbentuk  dengan  sangat efisien pada kekuatan  ion  rendah 1mM atau pada  temperatur  setinggi 50oC, kondisi demikian  adalah  tidak  mungkin  untuk  memperoleh  hibrid  DNA/DNA.  Berkaitan dengan struktur utama PNA, hibrid PNA-DNA menempel pada permukaan elektrode, seperti dalam larutan, adalah lebih stabil dibanding DNA/DNA. Ini merupakan alasan mengapa PNA digunakan untuk pengembangan beberapa biosensor.  Wang  et  al.  (1997h)  menggunakan  PNA  untuk  pertama  kalinya  untuk mengembangkan sensor yang dapat mendeteksi point mutation dalam gen p53. Pada
saat  PNA-CPE  dan  DNA-CPE  digunakan  dengan  urutan  DNA  non-mutasi,  tidakterdapat pengganggu dalam  lapisan biopengenal PNA (23,6%), pada varians dengan
satu diperoleh untuk probe DNA di bawah kondisi  tersebut, bahkan pada temperatur menyimpang  (42oC),  menunjukkan  bahwa  probe  PNA  dapat  membedakan  dengan
jelas  point mutation.


2.2.1.c. Kompleks Besi
Takenaka  et  al.  (2000)  memperkenalkan  penggunaan    interkalator ferrocenylnaphtalene  diimida.  Senyawa  ini  membentuk  suatu  kompleks  dengan dsDNA  yang  secara  kinetik  dan  termodinamika  lebih  stabil  dibanding  dengan ssDNA.  Perilaku  indikator  redoks  ini  tidak  murni  bersifat  elektrostatik  atau interkalatif,  karena  potensial  formal  dari  pasangan  konstan  setelah  berinterkalasi dengan  ss  dan  dsDNA.  Probe  diperoleh  dengan menuangi  elektrode  emas  dengan tetesan  yang  mengandung  200  pmol  mercaptohexyl-oligonukleotida  selama  2  jam pada temperatur ruang. Hibridisasi dilakukan dengan menempatkan DNA target pada elektrode  yang  dimodifikasi  dengan  urutan  probe.  Kemudian  elektrode  direndam dalam  1mM  larutan  interkalator  aqueous  selama  5  menit,  dan  setelah  dicuci pengukuran  dilakukan  dalam  larutan  bufer  asetat  yang  mengandung  40mM  KCl.
Voltamogram  DPV menunjukkan  suatu  peningkatan  penting  dalam  arus  pada  510 mV deangan keberadaan target, dengan suatu hubungan linier antara 10 dan 60 pmol. Hampir  tidak  ada  perubahan  yang  teramati  setelah  interaksi  dengan  oligo(dT)20 nonkomplementer. Mereka  juga mengembangkan metodologi  ini  untuk mendeteksi DNA  plasmid  yang  diperoleh  dari  bagian  gen  transport  kolin  dalam  ragi  dengan hibridisasi pada 25oC selama 20 menit. Limit deteksinya 1 fmol, sama seperti untuk oligonukleotida sintesis, yang telah dilaporkan. Tidak terdapat respons yang teramati untuk DNA plasmid yang diperoleh bukan dari gen  target.

2.2.2. Senyawa Organik
2.2.2.a. Acridine Orange 
Hashimoto  et  al.  melaporkan  penggunaan  beberapa  indikator  redoks  untuk deteksi  terjadinya  hibridisasi  (Hashimoto  et  al.  1993,  1994a,  b).  Penggunaan elektrode grafit yang dimodifikasi probe DNA dan interkalator yang disebut acridine orange  telah  digunakan  untuk  deteksi  hibridisasi.  Bagaimanapun,  karena  ikatan indikator  tidak  hanya  terhadap  dsDNA  tetapi  juga  terhadap  ssDNA  dan  terhadap elektrode secara adsorpsi fisik, sehingga signal hibridisasinya kecil (Hashimoto et al. 1993).
2.2.2.b. Hoestch 33258.  
Hoestch 33258 merupakan pengikat groove minor, suatu pewarna aktif secara elektrokmia,  digunakan  sebagai  indikator  untuk  deteksi  DNA  oncogene v-myc(Hashimoto et al. 1994a). Suatu DNA 20-mer merkaptoheksil diamobilisasi pada permukaan  emas  digunakan  sebagai  urutan  probe.  Hibridisasi  dilakukan  pada temperatur  40oC  selama  1  jam  dalam  0,300MNaCl  dan  0,030M  natrium  sitrat,  pH 7,0, sambil diaduk. Signal hibridisasi diperoleh dari arus oksidasi voltametri indikator redoks  pada  0,550 V  dengan  selektivitas  yang  baik.  Limit  deteksinya  adalah  10-13g/mL untuk pVM623 (4,2 kbp), yang mencakup 4 x 104 copy DNA per mL. 

2.2.2.c. Daunomycin
Senyawa  ini  banyak  digunakan  untuk  deteksi  terjadinya  hibridisasi. Hashimoto  et  al.  (1994b)  mengevaluasi  beberapa  interkalator  potensial:  pewarna acridine, antibiotika antrasiklin dan  tetrasiklin, pewarna ethidium, bisbenzimida, dan yang  lainnya  seperti  7-aminoactinomycin  D,  chromomycin  A3,  mithomycin  A, olivomycin,  vinblastine,  propidium  iodida,  quincacrine  mustard,  4’,6-diamidino-2-phenylindole  dihydrochloride  (DAPI),  dan  rifampicin.  Dalam  semua  pengerjaan, DNA  probe  diadsorpsi  pada  elektrode  basal  plane  pyrolitic  graphite  (BPPG)  yang dihaluskan,  selama 30 menit 100oC dan hibridisasi dilakukan pada  temperatur 40oC selama  1  jam.  Aktivitas  potensial  senyawa-senyawa  sebagai  indikator  redoks dievaluasi  dengan  pengukuran  pergeseran  potensial  puncak  anodik  yang  diperoleh pada  elektrode  modifikasi  dsDNA  dan  dibandingkan  dengan  elektrode  modifikasi ssDNA.  Di  antara  semua  senyawa  yang  diuji,  daunomycin  adalah  yang  terbaik, karena  menghasilkan  pergeseran  potensial  puncak  yang  tertinggi.  SPE  yang dimodifikasi dengan oligonukleotida sintesis dan fragmen DNA yang diekstraksi dari darah  manusia  dan  diamplifikasi  PCR  digunakan  untuk  pengujian  daunomycin sebagai indikator redoks untuk deteksi polimorfisme apolipoprotein E (Marraza et al. 2000),  menunjukkan  respons  linier  hingga  2  mg/L  DNA  target.  Tidak  terdapat pengganggu yang  teramati dengan urutan nonkomplementer yang mengandung  satu mismatch  di  tengah-tengah  urutan.  Limit  deteksinya  adalah  10µM.  Biosensor  ini dapat  digunakan  tidak  hanya  untuk  deteksi  oligonukleotida  sintesis  tetapi  juga fragmen  244  pb  yang  mengandung  dua  kodon  polimorfisme,  12  dan  158. Waktu hibridisasi  yang  lebih  lama  diperlukan  untuk  sampel  sebenarnya  (hingga  8 menit) untuk  mengimbangi  penurunan  kececepatan  hibridisasi  sebagai  konsekuensi  dari penembahan panjang rantai. Penentuan yang sangat sensitif dan selektif diperoleh.  Marrazza  et  al.  (1999)  mengajukan  sensor  elektrokimia  diposable menggunakan  13-mer  DNA  sintesis  yang  diamobilisasi  pada  SPE  dengan  dua prosedur: adsorpsi  langsung oligonukleotida pada permukaan yang di-pretreatment, dan amobilisasi oligonukleotida terbiotinilasi pada SPE modifikasi avidin. Hibridisasi dilakukan  pada  temperatur  ruang  dan  transduksi  dilakukan  dengan  PSA  pada  arus konstan  dari  signal  oksidasi  kronopotensiometri  daunomycin.  Limit  deteksinya berturut-turut  adalah  2  atau  3  µg/mL  untuk  biosensor  yang  dipreparasi  secara adsorpsi sederhana probe atau interaksi oligonukleotida terbiotinilasi-avidin.   Penggunaan  daunomycin  sebagai  indikator  redoks  juga  diajukan  oleh kelompok  Fang    (Sun  et  al.  1998).  Probe DNA  24-mer DNA  diamobilisasi  secara kovalen  pada  permukaan  emas  diderivatisasi  dengan  monolayer  aminoetanatiol secara  self-assemble.  Dalam  penelitian  ini  signal  hibridisasi  diperoleh  dari  arus reduksi daunomycin yang  terinterkalasi. Responsnya  linier antara 0,1 ng/mL dan 0,1 µg/mL dan limit deteksinya adalah 30 pg/mL. Sampel digunakan sebagai target yaitu DNA  sintesis  24-mer  dan  400  pb  yAl3DNA  (komplementer)  dan  PNC3DNA (nonkomplementer) dengan perbedaan yang sangat nyata. 

2.2.2.d. Epirubicin
Epirubicin  merupakan  obat  antikanker  yang  dapat  mengikat  DNA  melalui interkalasi  dan  digunakan  sebagai  indikator  redoks  untuk  deteksi  terjadinya hibridisasi  (Erdem  and Ozsoz  2001).  Probe  (17-mer  oligonukleotida)  diamobilisasi dengan adsorpsi pada CPE. Hibridisasi dilakukan dengan mencelupkan elektrode ke dalam larutan target selama 5 menit pada potensial 0,50V. Dengan keberadaan double helix,  signal  DPV  adalah  lebih  kecil  dikarenakan  shielding  dari  gugus  yang  dapat dioksidasi setelah interkalasi. Hampir tidak ada perubahan dalam respons voltametrik yang diperoleh, dibandingkan dengan blanko. 

2.2.2.e. Methylene Blue 

Senyawa  ini  adalah  pewarna  3,7-bis  (dimethylamino)phenothiazine-5-ium-chloride (methylene blue, MB) yang dapat berinterkalasi dengan DNA (Kelley et al. 1997, 1999). Kerman et al. (2002) melaporkan penggunaan senyawa ini untuk deteksi terjadinya  hibridisasi.  Dalam  satu  kasus  (Kerman  et  al.  2002)  probe  merupakan oligonukleotida yang  terikat secara kovalen  terhadap residu karboksilat yang berasal dari  lapisan  tiolasi  yang  diamobilisasi  pada  permukaan  emas  yang  sebelumnya diaktivasi  dengan  N-hidroksisuksinimida  dan  karbodiimida.  Signal  hibridisasi  diperoleh dari penurunan arus  reduksi MB yang menggambarkan  inhibisi sterik dari gugus MB  tereduksi  yang  dipak  antara  bulky  double  helix  hibrid.  Penggunaan MB juga diajukan untuk deteksi voltametri urutan DNA yang berkaitan dengan virus TT dan  HBV  (TT  adalah  inisial  untuk  pasien  pertama  yang  terinfeksi  virus  ini)  dari sampel sebenarnya yang diamplifikasi PCR (Meric et al. 2002). Probe dibuat secara adsorpsi pada CPE dengan 21- dan 24-mer oligonukleotida HBV dan TTV, berturut-turut.  MB  juga  digunakan  oleh  kelompok  Fang  (Zhu  et  al.  2004)  untuk  deteksi terjadinya hibridisasi pada permukaan elektrode emas dimodifikasi zirkonium oksida. Hibridisasi dilakukan pada  temperatur  ruang  selama 30 menit dengan mencelupkan elektrode  termodifikasi  dengan  probe  ke  dalam  larutan  hibridisasi  dengan
pengadukan,  yang mengandung DNA  target.  Interkalasi  terjadi  dalam  larutan  2,0x10-5 M MB  selama  5 menit  dengan  sirkuit  terbuka. Deteksi  elektrokimia  dilakukan secara  DPV  dari  signal  reduksi  pada  20,20V. Arus  menurun  secara  linier  dengan logaritma dari DNA  target 2,25 x 10-10 hingga 2,25 x 10-8M,  limit deteksinya 1,0 x 10-10M.  Ozkan  et  al.  (2002)  menujukkan  bahwa  dengan  DNA-CPE,  MB  dapat digunakan  sebagai  penanda  redoks  untuk  deteksi  hibridisasi  pada  CPE  yang dimodifikasi PNA. Mereka mempelajari  interkalasi MB dengan PNA pada elektrode merkuri  dan  CPE  dengan  kombinasi  adsorptive  transfer  stripping  voltammetry, alternating current voltammetry, dan differential pulse voltammetry.

2.2.2.f. Hemin. 
Kara  et  al.  (2002)  mengajukan  penggunaan  hemin,  suatu  kompleks  besi porfirin, sebagai indikator redoks, yang dihubungkan dengan penggunaan suatu GCE dan DPV. Interaksi hemin dengan ss dan dsDNA diikuti dari arus reduksinya dalam larutan bufer asetat 0,50M yang dideoksigenasi, pH 4,80, mengandung 20 mM NaCl. Penurunan arus ini diamati setelah interkalasi dengan dsDNA karena tersembunyinya bagian molekul yang dapat tereduksi.  
2.3. Berdasarkan Perubahan Sifat Listrik Film  
Perubahan  dalam  beberapa  sifat  intrinsik  double  helix  seperti  konduktivitas, kapasitansi,  atau  impedansi  dapat  digunakan  untuk  evaluasi  pembentukan  double helix. 
Kelompok Wang  (Wang  et  al.  1999b) mengajukan  pendekatan menarik dan bebas penanda berdasarkan pada doping probe asam nukleat langsung ke dalam film polipirol.  Matriks  polimer  dielektrogenerasi  secara  potensiodinamika  pada  GCE menggunakan  0,05M  pirol  +  100µg/mL  larutan  probe  oligonukleotida.  Hibridisasi dilakukan dalam larutan 0,1M glisin/0,1M NaCl pada 0.15V dibawah kondisi dimana oligonukleotida  anionik  hanya  sebagai  dopant.  Signal  hibridisasi  diperoleh  pada 0,15V  menggunakan  polipirol  yang  dibuat  dalam  keberadaan  oligo(dG)20  dan oligo(dA)20.  Setelah  penambahan  urutan  komplementernya,  respons  negatif diperoleh,  yang  ditandai  dengan  naiknya  densitas muatan  dan  ukuran  dopant  asam nukleat  terhadap  hibridisasi,  begitu  pula  perubahan  konduktivitas  polimer. Dengan keberadaan  urutan  nonkomplementer  signal  ini  positif  dan  berkaitan  dengan perubahan  konduktivitas  yang  berhubungan  dengan  repulsi  elektrostatik  atau adsorpsi. 
Strategi  yang  lain  untuk  deteksi  secara  elektrokimia  oligonukleotida  pendek terdiri  dari  penggunaan  suatu  permukaan  terstabilisasi  membran  lipid  bilayer  dari fosfatidilkolin telur yang dipreparasi pada elektrode perak yang dilapisi dengan suatu lapisan  polimer  dan  kemudian  dicelupkan  ke  dalam  0,1M KCl  (Krull  et  al.  2000). ssDNA  dimodifikasi  dengan  karbon  alifatik  C16  menghasilkan  suatu  kenaikan densitas muatan  negatif  pada  permukaan membran, menandakan  sifat  biopengenal. Percobaan dengan label fluorescein dT20-C16 menunjukkan bahwa reduksi dalam arus gabungan  teramati  setelah  penambahan  dA20  berkaitan  dengan  pelepasan  double helix.
Vagin  et  al.  (2003)  mengajukan  penggunaan  elektrode  emas  yang dimodifikasi dengan surfaktan yang disebut Brij-52. Probe DNA dipreparasi dengan menetesi emas dengan 5µL larutan etanolat Brij-52, diikuti dengan evaporasi pelarut. Selanjutnya,  elektrode  dibiarkan  untuk  berinteraksi  dengan  probe  oligonukleotida yang mengandung rantai hidrokarbon panjang,  C16pdT5, yang terakumulasi ke dalam daerah  hidrofobik  bilayer  surfaktan.  Signal  yang  diperoleh  dari  pengukuran impedansi pada 0,1 V vs. Ag/AgCl, 1MKCl pada  temperatur  ruang merupakan dari penurunan  komponen  sebenarnya.  Penurunan  ini  pada  frekuensi  tinggi  berkaitan dengan  resistensi  membran  seiring  kenaikan  kapasitansi  dari  violasi  lokal  inner bilayer.  

2.4. Berdasarkan Penggunaan Skema Amplifikasi Signal
Suatu  kesempatan  yang  sangat  menarik  untuk  meningkatkan  sensitivitas pengujian  untuk  deteksi  terjadinya  hibridisasi  adalah  amplifikasi  signal.  Daftar publikasi panjang yang mendukung strategi baru yang penting ini telah dihasilkan. Kelompok Willner mempresentasikan penggunaan  liposom bertanda  sebagai probe  untuk  amplifikasi  proses  sensing  DNA  dan  memperoleh  informasi  tentang terjadinya  hibridisasi  secara  Faradaic  impedance  spectroscopy,  quartz  crystal microbalance, dan pengukuran secara  elektrokimia (Patolsky et al. 2000; Alfonta et al.  2001;  Patolsky  et  al.  2001)  (Gambar  3).  Dalam  satu  kasus,  oligonukleotida sulfanilheksil  yang mengandung  13  basa  ditempelkan  pada  elektrode  emas,  diikuti dengan  hibridisasi  dengan  DNA  target  (Patolsky  et  al.  2000).  Pada  saat  hibrid terbentuk, struktur yang dihasilkan berinteraksi dengan  liposom yang dilabel dengan oligonukleotida  lain  yang  berkomplementer  terhadap  salah  satu  bagian  target. Liposom  (220  nm)  tersusun  dari  asam  fosfatidat,  fosfatidilkolin,  maleimida-fosfatidiletanolamin,  dan  kolesterol.  Tiap  liposom  mengandung  50-60  unit oligonukleotida yang menyumbangkan densitas muatan negatif  terhadap permukaan.
Kalium ferrisianida/ferrosianida digunakan sebagai penanda redoks yang ditolak oleh
muatan  negatif  liposom,  konsekuensinya  meningkatkan  resistensi  transfer  muatan dari 3 kW pada emas yang mengandung probe hingga 4,5 kW setelah pembentukkan duplex, dan 15 kW setelah penggabungan liposom. Limit deteksinya adalah 1,2 x 10-12M  atau  6  x  10-16
 mol  dalam  sampel  analit  dan  selektivitas  untuk  oligonukleotida dengan 6 mutasi sangat ekselent.  
Dalam  konfigurasi  yang  lain  penulis  menggunakan  liposom  bermuatan negatif  berlabel  biotin.  Dalam  hal  ini,  liposom  tersusun  dari  fosfatidilkolin, fosfatidiletanolamin, kolesterol, dan fosfatidil etanolamin  terbiotinilasi yang berlabel residu  biotin  (550  unit  biotin  per  liposom).  Kelebihan  prosedur  ini  adalah  dapat menaikkan amplifikasi, karena setelah asosiasi avidin/liposom terbiotinilasi resistensi naik  hingga  17  kW  dan  20  kW.  Dengan  dua  kali  tahap  memungkinkan  untuk mendeteksi 5 x 10-14 M atau 2,5 x 10-17 mol dalam sampel analit. Penggunaan liposom berlabel biotin dan HRP untuk mengamplifikasi signal  juga diajukan  (Alfonta et al. 2001).  Liposom  dimodifikasi  biotin  dan  HRP  diamobilisai  pada  temperatur  ruang diikuti dengan  reaksi denag 4-kloro-1-naftol  (1 x 10-3M) plus 1,5 x 10-4M hidrogen peroksida.  Perubahan  dalam  resistensi  transfer  elektron  digunakan  sebagai  signal analitik, limit deteksinya adalah 6,5 x 10-13M.
Alternatif lain adalah penggunaan liposom yang mengandung oligonukleotida yang  menjadikan  terbentuknya  struktur  dendritis  (Patolsky  et  al.  2001).  Penulis mengajukan  penggunaan  liposom  yang  dimodifikasi  dengan  oligonukleotida komplementer  terhadap  bagian  DNA  target.  Prosedur  dimulai  dengan  amobilisasi probe  pada  permukaan  emas,  diikuti  dengan  hibridisasi  pada  permukaan  elektrode, menyisakan  bagian  bebas  untuk  berinteraksi  dengan  liposom  berpenanda  DNA.
Pendekatan  lain adalah berdasarkan penggunaan oligonukleotida  terbiotinilasi untuk
membentuk  double  helix  yang  akan  kembali  berhidridisasi  dengan  probe. Selanjutnya,  pada  saat  target  terikat  terhadap  oligonukleotida  terbiotinilasi berhibridisasi  dengan  urutan  probe,  avidin  ditambahkan  untuk  bergabung  dengan  liposom terbiotinilasi. Dalam hal ini, penambahan avidin dan liposom memungkinkan untuk terbentuknya struktur dendritis yang dapat mendeteksi 1 x 10-13M DNA target. 

Lumley-Woodyear  et  al.  (1996)  mengajukan  deteksi  terjadinya  hibridisasi menggunakan  poli(deoksitimidin)-5’-fosfat  (pd(T)25-30)  sebagai  probe  dan poli(deoksiadenosin)-5’-fosfat  (pd(A)25-30)  dilabel  dengan  target  horseradish peroxidase.  Deteksi  dilakukan  pada  0,0  V  vs    Ag/AgCl  dari  reduksi  Os3+  yang dihasilkan selama regenerasi enzimatis. Respons untuk urutan nonkomplenter sekitar 5%  dari  urutan  komplementer. Caruana  et  al.  (1999)  juga mengajukan penggunaan elektrode  dengan  diameter  7  µm  dimodifikasi  dengan  suatu  polimer Os. Penentuan dilakukan  pada  20,06  V  setelah  penambahan  target  yang  dilabel  dengan  soybean peroxidase  (SBP).  Kontak  listrik  antara  SBP  dan  elektrode  didasarkan  melalui polimer  redoks, yang dapat mereduksi elektrokatalitik hidogen peroksida. Di bawah kondisi  ini memungkinkan  untuk  deteksi  40.000  copy  dan membedakan  mismatch basa tunggal dalam oligonukleotida 18-mer.  Pendekatan  lain  dilaporkan  penggunaan  elektrode  karbon  yang  dimodifikasi dengan polimer osmium dan avidin, dimana urutan probe  terbiotinilasi diamobilisasi (Campbell  et  al.  2002).  Hibridisasi  dilakukan  selama  30  menit  diikuti  dengan penggabungan  urutan  berlabel  horseradish  peroxidase  (setelah  inkubasi  15 menit).
Signal  analitik merupakan  arus  katalitik  pada  0,0 V  vs. Ag/AgCl  berkaitan  dengan reduksi 1mM hidrogen peroksida. Analit adalah E. coli 16S  rRNA  (60 basa). Telah
dilaporkan pula kemungkinan deteksi urutan komplementer dalam keberadaan DNA salmon dan serum kambing.  Kemajuan  berarti  dalam  deteksi  DNA  target  dibandingkan  dengan  hasil sebelumnya  diperoleh  dengan  penggunaan  uji  sandwich-type-enzyme-amplified (Zhang et al. 2003). Limit deteksinya adalah 0,5 fM yang dicapai dengan konfigurasi ini. Mereka menggunakan GCE  10  µm  dimodifikasi  dengan  PAA-PVP-Os. Hibrid yang dihasilkan diuapkan  terhapap oligonukleotida 18-mer berlabel 10nM HRP, dan deteksi  terjadinya  hibridisasi  dilakukan  secara  amperometri  pada  0,12  V  dalam larutan  PBS  setelah  penambahan  1mM  hidrogen  peroksida.  Respons  linier  antara  ujung 5 dan 200 zmol (3000 hingga 12000 copy) target. Hal ini memungkinkan untuk mengukur 0,5 fM DNA, yaitu sekitar 3000 copy dalam 10 µL droplet.  Penukaran HRP  dengan  bilirubin  oksidase,  suatu  enzim  yang mengkatalisis reduksi  oksigen  sekitar  terhadap  air, menghasilkan  skema  lebih  sederhana  dengan sensitivitas  tinggi  dalam  penentuan  DNA  Shigella  flexneri,  dalam  hubungannya dengan  polimer PAA-PVP-Os  dan  10-µm GCE  (Zhang  et  al.  2004). Dalam  hal  ini deteksi terjadi dalam level femtomolar, 10-15M dalam 5 µL larutan, sama dengan limit deteksi sebelumnya yang diajukan oleh penulis yang sama menggunakan HRP.
Suatu  lapisan  sensing  untuk  deteksi  terjadinya  hibridisasi  diperoleh  dengan deposisi  secara  bertahap  dari  polielektrolit  telah  dilaporkan  oleh Domı´nguez  et  al. (2004).  Penulis  menggambarkan  keberhasilan  pelabelan  oligonukleotida  dengan enzim  sebagai  rute  baru  untuk  amplifikasi  signal  hibridisasi  dengan  tahapan hibridisasi bertingkat. Biosensor dipreparasi  secara    self assembling dari poli[(vinil-piridin)Os(bpy)2Cl] kationik pada elektrode emas diikuti dengan penggabungan HRP anionik yang dimodifikasi  secara kimia dan  suatu  lapisan baru dari polimer  redoks. Ketika struktur terbentuk, DNA terikat secara kovalen melalui gugus fosfat 3’.  Tahap  berikutnya  merupakan  titik  kunci  dari  rute  baru  berkaitan  dengan penggabungan GOx yang dimodifikasi dengan banyak oligonukleotida yang membuat kemungkinan  transduksi  langsung dari  terjadinya hibridisasi dan amplifikasi dengan tahap hibridisasi bertingkat. Dalam hal  ini,  setelah penambahan glukosa, dihasilkan hidrogen peroksida, dimana  setelah difusi cepat, dapat dideteksi dengan amobilisasi HRP  dekat  permukaan  elektrode.  Urutan  dari  tahap  hibridisasi  dapat  diulang mengikuti bangunan arsitektur dendritis yang menjadikan peningkatan penting dalam sensitivitas. Metodologi  ini mendapatkan  kuantifikasi  oligonukleotida  44-mer  pada level 1 nM setelah 30 menit hibridisasi. Suatu  metode  biosensing  elektrokimia  berdasarkan  pembentukan  pasangan avidin-fosfatase basa terhadap oligonukleotoda terbiotinilasi telah dilakukan oleh Xu et  al.  (2001).  Transduser  adalah  suatu  elektrode  lapisan  emas  fotolitografi  yang dimodifikasi dengan DNA 20-mer dari bagian segmen DNA antigen B core hepatitis, dimodifikasi  dengan  suatu  gugus  merkaptoheksil  pada  ujung  5’-nya.  Hibridisasi dilakukan  dalam  mikrosel  (150  µL)  yang  berisi  DNA  komplementernya  yang terbiotinilasi  pada  temperatur  37oC  selama  1  jam.    Setelah  hibridisasi  berhenti, elektrode  diinkubasi  selama  15  menit  dengan  avidin-fosfatase  basa,  dengan keberadaan  a-naftilfosfat,  yang  tertransformasi  dalam  a-naftol  elektroaktif.  Arus puncak  oksidasi  a-naftol  digunakan  sebagai  signal  analitik.  Dengan menggunakan sampel DNA plasmid HBV,  limit deteksinya adalah 0,22 nmol/L  (30  fmol dalam 5 µL  sampel).  Hanya  masalah  dalam  metodologi  ini  adalah  selektivitas,  karena mismatch 3 basa mengganggu 7,5% sementara mismatch 2 basa sebesar 47,6%. Kim et al. (2003) mengajukan penggunaan dendrimer ferrocenyl-tethered  poly(amido-amine)  (FcD)  secara  parsial  sebagai  elektrokatalis  untuk  amplifikasi deteksi  terjadinya  hibridisasi.  Probe  terikat  secara  kovalen  terhadap  dendrimer  dan berhibridisasi  dengan  DNA  target  31-mer  pada  temperatur  ruang  selama  2  jam. Dalam  tahap  berikutnya,  oligonukleotida  terbiotinilasi  bergabung  dengan  struktur secara  sandwich-type.  Kemudian,  konjugat    avidin-alkaline  fosfatase  bergabung  dengan struktur dan p-aminofenil fosfat yang berkonversi secara enzimatis menjadi p-aminofenol,  dimana  setelah  terdifusi mendekati  lapisan  FcD  secara  elektrokatalitik teroksidasi  menjadi  quinoimida.  Arus  elektrokatalitik  yang  dimonitor  secara voltametri  siklik  merupakan  signal  hibridisasi.  Limit  deteksinya  adalah  20  fmol.
Biosensor  diuji  dengan  target  yang  mengandung  mismatch  satu  basa  dan  arus elektrokatalitiknya yaitu 22,7% dari satu yang diperoleh dengan komplementer target. Mereka  menemukan  penurunan  bertahap  respons  elektrode  setelah  pengulangan percobaan terutama berkaitan dengan peningkatan deaktivasi enzim yang terikat.  Pividori  et  al.  (2003)  melakukan  deteksi  amperometri  dari  amplikon dihubungkan dengan urutan spesifik DNA IS200 Salmonella spp (probe 292 pb probe dari  IS200  ujung  5’).  Hibridisasi  dengan  target  terbiotinilasi  dilakukan  pada temperatur 42oC dalam volume larutan 150 µL selama 45 menit. Kemudian pelabelan dengan  inkubasi  konjugat  enzim,  HRP-streptavidin  pada  temperatur  42oC  dan penentuan  secara  amperometri  dilakukan  pada  20,10  V  dalam  keberadaan hidroquinon setelah penambahan 1,06 mM hidrogen peroksida. 

2.5. Berdasarkan Penggunaan Permukaan yang Berbeda untuk Hibridisasi dan Deteksi
Sesuatu  yang  baru,  menarik,  dan  strategi  yang  sangat  inovatif  untuk keberhasilan yang  tinggi deteksi  terjadinya hibridisasi  telah dilaporkan dalam  tahun terakhir.  Pada  dasarnya,  hal  tersebut  berdasarkan  penggunaan  dua  permukaan  yang berbeda, satu untuk melakukan hibridisasi dan yang  lainnya untuk deteksi  terjadinya hibridisasi. Kombinasi  ini  membiarkan  pilihan  dari  permukaan  yang  paling  baik  untuk  melakukan  hibridisasi  dan  satu  lagi  yang  paling  baik  untuk melakukan  penentuan  secara  elektrokimia. Dengan  cara  ini,  adalah memungkinkan untuk untuk menganalisis DNA secara sangat sensitif dan selektif.   
2. 5.1. Berdasarkan Deteksi Basa-Basa Secara Elektrokimia 
Kelompok Palecek  (Palecek et al. 2002c) mengajukan penggunaan magnetic beads  yang  dapat  dibeli,  yang  diderivatisasi  dengan  oligo(dT)25  untuk melakukan hibridisasi  dalam  volume  yang  sama  0,2M  NaCl  dan  50mM  bufer  fosfat  pH  7,0, pengadukan  selama  30 menit.  Setelah  hibridisasi  dan  pencucian,  DNA  dilepaskan dari magnetic bead dengan pemanasan pada  temperatur 85oC selama 2 menit dalam 20 µL air  trides. Depurinasi dilakukan dalam  larutan HClO4 panas selama 30 menit. Setelah  dingin  dan  netralisasi,  larutan  yang  dihasilkan  ditambahkan  terhadap elektrolit  pendukung  untuk  dideteksi  secara  elektrokimia.  Hal  itu  dilakukan  dalam dua  arah,  satu  difokuskan  pada  penentuan  basa  dengan  sensitivitas  tinggi  pada merkuri, melalui pembentukkan senyawa sedikit larut, dan yang lainnya berdasarkan penggunaan  oligonukleotida  berlabel  osmium  tetroksida,  2,2’-bipiridina. Dalam  hal ini,  signal  hibridisasi  diperoleh  dari  evolusi  hidrogen  katalitik  dalam  keberadaan osmium. Penggunaan material karbon untuk penentuan oksidasi residu G dan A atau DNA target modifikasi Os-bpy juga telah dilaporkan. 
            Wang  et  al.  (2002a) mengajukan  deteksi  elektrokimia  terjadinya  hibridisasi yang bebas-label dari deteksi nukleobasa dengan keberadaan tembaga. Protokol untuk deteksi gen kanker payudara BRCA  terdiri dari penempelan 19-mer oligonukleotida dengan  substitusi  inosin  terbiotinilasi  terhadap  streptavidin  yang  ditutupi  magnetic bead,  diikuti  dengan  hibridisasi.  Setelah  pemisahan  magnetik,  magnetic  beads  disuspensikan  dalam  NaOH  selama  5  menit,  dipindahkan  ke  dalam  sel  untuk penghancuran asaam dengan keberadaan 3M asam sulfat, dan kemudian  dipanaskan hingga kering. Setelah kering, residu disuspensikan dalam 0,5M asetat pH 5,9 dan 2 mg/L  larutan  tembaga(II)  (pH  akhir  4,8)  dimana  deteksi  elektrokimia  dilakukan menggunakan  elektrode  grafit.  Kronopotensiogram  menunjukkan  dua  proses,  satu pada  0,87  V  dan  yang  lainnya  pada  1,18  V,  untuk  oksidasi  guanin  dan  adenin berturut-turut.  Signal  naik  dengan  besar  dengan  keberadaan  tembaga  karena terbentuknya  kompleks  Cu(I).  Puncak  oksidasi  guanin  naik  16-  dan  31-  kali  lipat dengan keberadaan 2 dan 4 mg/L tembaga berturut-turut. Limit deteksinya adalah 250 pg atau 40 fmol dalam 50 µL volume sampel.
Wang  et  al.  (2003a)  mengajukan  penggunaan  GCE  dimodifikasi  dengan MWCNT  sebagai  suatu  detektor  dari  gen  kanker  payudara  BRCA1.  Keberadaan nanotube  karbon menghasilkan  cara  yang  efisien  untuk  amplifikasi  deteksi  bebas- label  secara  elektrokimia  untuk  hibridisasi DNA. Kombinasi  penghancuran  sampel DNA  dengan  keberadaan  tembaga, menghasilkan  signal  hibridisasi  yang  baik  yang diperoleh dalam rentang  50–250 µgL-1 setelah 20 menit hibridisasi. Limit deteksinya adalah 40 ng/mL, 2 ng, atau 100 fmol dalam 50 µL larutan hibridisasi.

2. 5.2. Berdasarkan Pada Deteksi Partikel Logam Yang Terikat Pada Hibrid 
Katz,  Willner  dan  Wang  (2004)  mempresentasikan  suatu  review  tentang penelitian dengan penggunaan  logam, semikonduktor, dan partikel magnetik sebagai unit  fungsional  untuk  aplikasi  elektroanalitik.  Wang  (2003)  meringkas  kemajuan  terkini  dalam  perkembangan  pasangan  nanopartikel/polinokleotida  baru  untuk peningkatan deteksi urutan spesifik DNA secara listrik.


2.5.2.a. Deteksi Emas. 
Wang  et  al. mempresentasikan  penggunaan  stripping  logam  untuk  pertama kalinya  (Wang  et  al.  2001a)  untuk  deteksi  urutan DNA  dari  gen  kanker  payudara BRCA 1 menggunakan penanda emas koloidal. Protokolnya terdiri dari: 
a)  amobilisasi  oligonukleotida  probe  terbiotinilasi  pada magnetic  beads modifikasi avidin; b) Hibridisasi; c) Interaksi dengan nanopartikel logam dilapisi streptavidin;  d) Pelarutan emas dalam 1MHBr + 0.1mMBr2; e) Prekonsentrasi emas pada elektrode screenprinted  dengan  penerapan  20,8  V  selama  2  menit;  f)  Deteksi  elektrokimia dalam  larutan  1MHBr  +  0.1mM Br2  secara  PSA  pada  arus  konstan  5,0  µA.  Limit deteksinya adalah 100 g/mL atau 5 ng dalam 50 µL sampel.

2.5.2.b. Deteksi Perak. 
Kemajuan  yang  ekselent  dalam  sensitivitas  dilaporkan  dengan  melibatkan tahap deposisi perak  setelah  interaksi dengan partikel emas-streptavidin  (Wang et al. 2001b). Dalam hal  ini, penentuan kronopotensiometri dilakukan secara PSA  pada  SPE  setelah  pelarutan  perak  yang  terdeposit  dalam  asam  nitrat.  Limit deteksinya  adalah  0,2  ng/mL,  32  pM,  10  pg,  atau  1,5  fmol  dalam  50µL  larutan hibridisasi.  Suatu skema menarik berdasarkan penggunaan deteksi stripping elektrokimia padatan  yang  diinduksi  secara magnetik  dari  penanda  logam  juga  diajukan  sebagai suatu alternatif untuk menurunkan  jumlah  tahapan dalam deteksi bagian gen kanker  payudara BCRA 1 (Wang et al. 2002b). Protokol berdasarkan pengumpulan magnetic bead  yang  mengandung  hibrid  dan  presipitasi  perak  pada  SPE.  Medan  magnet membuat  agregat  partikel  DNA  logam  pada  permukaan  elektrode  setelah  tahap hibridisasi. Signal kronopotensiometri yang sangat baik dari akumulasi perak teramati pada  0,28  V.  Suatu  signal  dengan  12  kali  lipat  lebih  kecil,  dibandingkan  dengan urutan  komplementer,  teramati  untuk  DNA  dengan  mismatch  basa  tunggal.  Limit deteksinya  adalah  150  pg/mL  atau  1,2  fmol  diperoleh  setelah  30 menit  hibridisasi. Reprodusibilitas pengujian adalah sebesar 7%.
Strategi  lain adalah berdasarkan deposisi besar-besaran perak dalam  struktur DNA, dengan cara yang  sama dengan yang digunakan ketika menggenerasi  templat DNA  dari  nanokawat  logam  (Braun  et  al.  1998). Pada  saat  double  helix  terbentuk, kemudian dicelupkan dalam  larutan yang mengandung Ag+ dan hidroquinon. Dalam hal  ini,  ion  perak  terikat  pada  backbone  DNA  bermuatan  negatif  secara  interaksi elektrostatik dan dalam keberadaan hidroquinon mereka  terdeposit  sepanjang DNA. Setelah pelarutan dalam  larutan asam nitrat, perak yang  terdeposit direoksidasi pada permukaan  elektrode.  Signal  oksidasi  ini  digunakan  untuk mengevaluasi  terjadinya hibridisasi.   
 Protokol tediri dari:
a) Amobilisasi probe terbiotinilasi pada streptavidin-modified magnetic beads, 
b) Hibridisasi dengan target terbiotinilasi
c) Interaksi dengan nanopartikel emas koloidal dilapisi streptavidin, 
d) Pengendapan perak,
e) Pelarutan partikel perak,
f) Deposisi perak terlarut pada SPE, dan
g) Analisis stripping kronopotensiometri dari logam terdeposisi.
            Wang et al. (2003b) melaporkan suatu protokol baru untuk deteksi hibridisasi DNA menggunakan DNA  sebagai  templat metalisasi.  Protokol  baru  ini  terdiri  dari modifikasi  emas  dengan  cystamine  diikuti  dengan  amobilisasi  probe  DNA  dengan pengikatan  kovalen  dengan  karbodiimida.  Setelah  penghilangan  DNA  nonspesifik yang  teradsorpsi,  hibridisasi  dilakukan  dalam  larutan  bufer  foafat  0,05M,  pH  7,6, selama 30 menit pada  temperatur  ruang. Pada saat DNA nonhibridisasi dihilangkan, perak  dikumpulkan  secara  elektrostatik  pada  hibrid  dan  setelah  presipitasi  dalam  keberadaan  hidroquinon,  dilarutkan  dan  dikuantifikasi  dalam  asam  nitrat 0,1M/kalium  nitrat  0,1M  secara  PSA  pada  SPE  yang  dipretreatment.  Sensor dievaluasi  dalam  kaitannya  dengan  urutan  DNA  kanker  payudara  BCRA  1.  Limit deteksinya adalah 100 ng/mL atau 5 ng dalam 50 µL larutan hibridisasi. 

2.5.2.c. Deteksi Besi. 
Terjadinya  hibridisasi  juga  dideteksi  dengan  pengukuran  stripping  runutan besi. Wang et al. (2003c) mengajukan dua protokol yang melibatkan penentuan besi, pertama  berdasarkan  pelabelan  probe  dengan  nanopartikel  besi  dilapisi  emas,  dan kedua  berdasarkan  deteksi  besi  yang  terdapat  dalam  penanda  magnetic-sphere mikroskopik. Dalam kasus pertama  target  terbiotinilasi diamobilisasi pada magnetic bead,  diikuti  dengan  hibridisasi  dengan  probe  berlabel  partikel  besi/emas  dan pelarutan  emas  dalam  larutan  1M HBr  +  0.1mM  Br2  dalam  larutan  bufer  pH  9,0, yang mengandung 20 µM nitroso naftol dan 40mM kalium bromat (digunakan untuk amplifikasi  signal). Besi  dideposit  pada  20,05 V  pada  suatu  hanging mercury  drop electrode dan dideteksi secara DPV. Dalam kasus kedua, hibridisasi dilakukan dalam microwell  modifikasi  chitosan.  Pada  saat  hibridisasi  dilakukan,  partikel  yang mengandung  besi  dilarutkan  dan  besinya  dikuantifikasi  dengan  cathodic  stripping voltammetry  dengan  keberadaan  1-nitroso-2-naftol  dan  bromat.  Pengujian  menjadi alternatif baru untuk deteksi terjadinya hibridisasi.  
2.5.2.d. Cadmium Sulfida. 
Wang  et  al.  melaporkan  untuk  pertama  kalinya  penggunaan  nanopartikel anorganik biner  seperti koloid CdS untuk deteksi  terjadinya hibridisasi berdasarkan  penentuan  kronopotensiometri  sensitif  terhadap  runutan  cadmium  terlarut  (Wang  et al.  2002c).  Protokol  yang  diajukan  meliputi:  a) Pengikatan  target  terbiotinilasi terhadap magnetic  bead yang  tertutup  oleh  streptavidin,  b) Interaksi  dengan  probe yang  dilabel  CdS, c) Pelarutan  nanopartikel  dalam  larutan  HNO3  1M;  dan  d) Penentuan kronopotensiometri dari ion cadmium terlarut pada film merkuri GCE.  Signal cadmium yang bagus diperoleh pada  -0,52 V dengan perbedaan yang jelas  terhadap  urutan  nonkomplementer  dalam  kelebihan  yang  besar.  Limit deteksinya adalah 20 ng/mL atau 100 fmol dalam 50 µL sampel. Patolsky  et  al.  (2003)  melaporkan  dengan  kekecualian  limit  deteksi  yang rendah untuk DNA virus menggunakan partikel magnetik dimodifikasi asam nukleat., dalam hubungannya dengan chemiluminiscence sebagai mode  transduksi. Skemanya terdiri dari tahap-tahap berikut: a)  Modifikasi partikel magnetik 5 mm dengan primer bertiolasi  menggunakan  ester cross-linker  3-maleidopropionicacid  N-hydroxysuccinimide  heterobifungsional;    b)    Hibridisasi  dengan    ssDNA  M13  F (7229 basa); c)  Polimerisasi dengan keberadaan campuran dGTP, dATP, dCTP, dan suatu dUTP terbiotinilasi. Selanjutnya, setelah polimerisasi sejumlah besar unit biotin diperkenalkan;  d)    Interaksi  dengan  konjugat  avidin-HRP;  e)    Interaksi  dengan partikel  magnetik  modifikasi  naftoquinon;  f)    Pembentukan  hidrogen  peroksida dengan penerapan potensial untuk mereduksi naftoquinon, O2 dapat direduksi secara elektrokatalitik menjadi H2O2. Oksidasi  luminol  dengan  hidrogen  peroksida  terelektrogenerasi  dihasilkan dalam  chemiluminiscence  dan  emisi  cahaya.  Intensitas  cahaya  yang  dipancarkan  meningkat dalam hubungan yang  linier dengan w2 ketika partikel magnetik diputar. Limit deteksinya adalah 8,3 x 10-18M atau 50 copy per 10 µL. 
Wang  et  al.  (2003c)  mengajukan  suatu  skema  efektif  untuk  amplifikasi hibridisasi  DNA  berdasarkan  penggunaan  elektrode  single  wall  carbon  nanotubes (SWCNT)  membawa  partikel  CdS  dikombinasikan  dengan  deteksi  stripping voltammetric  dari  penanda  CdS  terlarut.  Nanotube  yang  diaktivasi  didispersikan dalam toluena untuk dicampurkan dengan CdS termodifikasi oligonukleotida. Setelah inkubasi  4  jam  dilakukan  pengadukan  dan  pemisahan  nanopartikel  yang  tak  terikat dan  penghilangan  toluena,  CNT  diaduk  dengan  streptavidin  dan  oligonukleotida terbiotinilasi yang disebut probe 2. Probe 1 terbiotinilasi ditambahkan pada keping uji streptavidin  dan  hibridisasi  dilakukan  pada  temperatur  ruang  setelah  penambahan probe 2-coated-SWCNT-CdS-streptavidin. Setelah 1 jam CdS dilarutkan dalam asam nitrat  1M.  Penentuan  elektrokimia  dari  kadmium  dilakukan  pada  elektrode  film merkuri-karbon gelas secara SWV. Di bawah kondisi  ini  limit deteksinya adalah 40 pg/mL atau 330 amol dalam 50 µL larutan.
Kelompok Wang (2003d) melaporkan suatu deteksi DNA multitarget ssecara elektrokimia berdasarkan penggunaan koloid anorganik lain, penanda (quantum dots, QD). Biosensor ini digunakan untuk deteksi tiga oligonukleotida sintesis 60-mer yang berbeda  yang  berkaitan  dengan  gen  kanker  payudara  BRCA1,  dan  hal  tersebut berdasarkan pada penggunaan tiga nanopartikel encapsul, CdS, PbS, dan ZnS. Setelah hibridisasi dengan target DNA dan hibridisasi selanjutnya dengan probe berlabel QD,  QD  dideteksi  secara  stripping  DPV  pada  elektrode  film merkuri.  Signal  diperoleh pada 21,12 V, 20,68 V, dan 20,53 V untuk Zn, Cd dan Pb, berturut-turut.

2.5.3.  Berdasarkan  Pada  Deteksi  Marker  Redoks  Yang  Terjebak  Dalam Microstyrene Bead Yang Terikat Pada Hibrid
Pendekatan  lain yang menarik untuk penentuan  terjadinya hibridisasi dengan sensitivitas  tinggi  adalah berdasarkan penggunaan penanda microstyrene microbead secara internal didahului dengan marker elektroaktif ferrocenecarboxaldehyde (FCA) (Wang  et  al.  2003e).  Suatu microsphere  yang mengandung  5  x  1011 molekul  FCA yang  tertutup  neutravidin  yang  membuat  interaksi  dengan  target  terbiotinilasi  dan kemudian berhibridisasi dengan probe terbiotinilasi yang diamobilisai pada magnetic bead. Marker  dideteksi  dari  signal  kronopotensiometri  yang  diperoleh  pada  0,88V menggunakan GCE. Limit deteksinya adalah 1 pg/L, sekitar 10-16M atau 5,1 x 10-21 mol, atau 31.000 molekul dalam 50 µL sampel. Microsphere  target-labeled-gold-loaded-polystyrene  juga  digunakan  untuk deteksi  terjadinya  hibridisasi  (Kawde  et  al.  2004).  Signal  yang  ditingkatkan menggunakan presipitasi emas katalitik pada nanopartikel emas yang  terdapat dalam hibrid  atau  menggunakan  format  sandwich.  Transduksi  elektrokimia  diperoleh dengan  oksidasi  dari  emas  yang  dielektrodeposisi.  Di  bawah  kondisi  tersebut diperoleh limit deteksi 6 pM atau 2 pg atau 300 amol dalam 50 µL sampel. 




2.5.4. Berdasarkan Deteksi Produk Enzimatis Menggunakan Enzim-Enzim Yang Diikat Terhadap Hibrid 
Suatu  uji  genomagnetik  berdasarkan  pada  pembentukan  pasangan  alkalin fosfatase  terhadap  hibrid  dan  penggunaan  SPE  untuk  melakukan  penentuannya  dilaporkan  oleh  kelompok Wang  (Wang  et  al.  2002d). Konjugat microsphere  yang berhibridisasi berinteraksi dengan streptavidin-alkaline fosfatase selama 25 menit dan transduksi dilakukan setelah penambahan substrat yaitu suatu naftil fosfat dari produk oksidasi  enzimatis,  a-naftol.  Limit  deteksinya  adalah  10  ng/L  setelah  20  menit hibridisasi  atau  500  pg  dalam  50  mL  sampel.  Protokol  ini  ditingkatkan  untuk penentuan simultan dari dua target DNA (Wang et al. 2002e). Bentuk ini berdasarkan pada  suatu  isolasi  magnetik  dari  duplex  DNA  dan  amplifikasi  diperoleh  dengan menggunakan b-galaktosidase dan alkaline fosfatase dalam kaitannya dengan analisis stripping  kronopotensiometri  dari  produk-produk  enzimatisnya,  fenol  dan  a-naftol pada  elektrode  kerja  pensil  grafit  yang  dapat  dibarukan  (pada  0,63  dan  0,31  V, berturut-turut). Limit deteksinya adalah 0,7 dan 0,9 ng/mL atau 5,5 fmol dalam 50 µL sampel untuk dua target.  
Bagel  et  al.  (2000) mengajukan  suatu  sensor  elektrokimia  disposable  untuk cytomegalovirus manusia berdasarkan penggunaan SPE yang dilapisi dengan nafion disesuaikan  terhadap  dasar  mikrowell  polistirena.  DNA  terdenaturasi  yang diamplifikasi  PCR  diamobilisasi,  diikuti  dengan  hibridisasi  dalam  larutan  yang mengandung 50 ng/mL oligonukleotida probe yang terbiotinilasi. Setelah pembilasan dan  konjugasi  dengan  streptavidin-alkaline  fosfatase  selama  15  menit,  substrat dibiarkan  bereaksi  selama  30  menit  dan  deteksi  dilakukan  dengan  CV.  Penulis melaporkan limit deteksinya 10 amol/mL. Cabig-Ciminska  et  al.  (2004) mengajukan  suatu  detektor  listrik  berdasarkan
chip  silikon  dipasangkan  dengan  hibridisasi  pada magnetic  bead  untuk  deteksi  rRNA  dalam  ekstrak  E.  coli. Gold microelectrode  array  terdiri  dari  empat  pasang elektrode interdigitasi plus dua elektrode pembantu. Tahap-tahap preparasi biosensor tersebut:  a)  Amobilisasi  probe  terbiotinilasi;  b)  Hibridisasi  dengan  target;  c) Hibridisasi  bertingkat  dengan  oligonukleotida  berlabel  digoksigenin;  d)  Inkubasi dengan  suatu  konjugat  antidigoksigenin-alkaline  fosfatase;  e)  Penambahan  p-aminofenol  fosfat;  f) Deteksi  amperometri  untuk menurunkan  p-aminofenol  setelah pentransferan pada chip.
Pengukuran  dilakukan  dengan  set  potensial  dari  satu  jari  pada  250  mV sementara  yang  lainnya  -50  mV.  Dalam  hal  ini  suatu  resiklus  terjadi  antara  p-aminofenol  dan  quinoneimine  (produk  reduksinya)  mengamplifikasi  respons amperometri.  Perbedaan  antara  respons  anodik  dan  katodik  adalah  penggunaannya sebagai signal. Dengan pengujian ini adalah memungkinkan untuk mendeteksi 1011– 1010 molekul target. Suatu  biosensing  listrik  ultrasensitif  DNA  diajukan  dengan  menggunakan CNT untuk pengenalan dan untuk terjadinya transduksi (Wang et al. 2004). Alkaline fosfatase diamobilisasi pada CNT menggunakan linker karbodiimida. Hampir 104 kali peningkatan sensitivitas diperoleh dalam keberadaan CNT yang dimodifikasi dengan alkaline  fosfatase.  Bagaimanapun,  jika  menggunakan  GC  dimodifikasi  dengan nanotube  karbon  sebagai  transduser,  amplifikasi  kedua  diperoleh  (30  kali  lipat), dalam  kaitannya  dengan  penambahan  akumulasi  produk  enzimatis  a-naftol  dengan keberadaan CNT. Limit deteksi  yang  rendah  diperoleh  selama  akumulasi  20 menit, sekitar 1 fg/mL, atau 54 aM, atau 820 copy, atau 1.3 zmol dalam 25 µL sampel. 

2.5.5. Berdasarkan Metodologi Lain
Palecek et al.  (2002e) mempresentasikan untuk pertama kalinya penggunaan immunogenisitas dari DNA  termodifikasi untuk pengembangan biosensor hibridisasi DNA. Respons  immunologi DNA  dan RNA  dapat  ditingkatkan  dengan modifikasi kimia  menggunakan  Os,bpy.  Magnetic  bead  yang  mengandung  oligo(dT)25 diletakkan  dan  dihubungkan  dengan  Os,bpy-DNA  untuk  dikenali  antibodi  primer yang  mengandung  residu  25-adenin  diikuti  dengan  interaksi  dengan  antibodi sekunder  yang  dilabel  alkaline  fosfatase.  Dalam  hal  ini,  setelah  penambahan  1-naftilfosfat,  produknya,  a-naftol  dapat  ditentukan  secara  elektrokimia.  Pengukuran langsung  DNA  target  yang  dimodifikasi  secara  kimia  secara  adsorptive  stripping SWV  pada  pyrolitic  graphite  yang  di-pretreatment  pada  -1,7  V  selama  60  detik dalam elektrolit  (bufer asetat 0,2 M, pH 5,0)  juga dilaporkan. DNA dilepaskan dari magnetic  bead  dengan  pemanasan  pada  temperatur  85oC  selama  2  menit,  diikuti dengan  penambahan  NaCl  hingga  0,2M.  Penulis  juga  menunjukkan  adanya kemungkinan untuk menentukan DNA-Os,bpy  tanpa pemisahan  sebelumnya produk tambahan dari  campuran  reaksi. Metodologi  juga diuji dengan produk PCR 226 pb DNA  dengan  residu  (dA)25.  Setelah  presipitasi  etanol  dan  modifikasi  Os,bpy, dihibridisasi  dalam  konsentrasi  5  dan  2,5    µg/mL.  Limit  deteksi  dalam  tahap hibridisasi  dihitung  adalah  3  fmol menggunakan  sel  1mL.  Jika menggunakan  dua sistem elektrode dan 20 µL, dalam 1 pg target akan terdapat 30 amol.  
Evtugyn  et  al.  (2003)  mengajukan  penggunaan  elektrode  graphite  screen-printed dimodifikasi dengan DNA dan  enzim untuk deteksi antibodi DNA manusia  dari  lupus  erythematosus  sistemik  dan  bronchial  asthma.  SPE  di-treatment  secara elektrokimia  dan kemudian dilapisi dengan  larutan  stok DNA dan peroksidase  atau kolinsterase  yang  mengandung  0,01%  gelatin,  diikuti  dengan  penambahan  5  µL glutaraldehid, dan tahap pengeringan selama 15 menit pada temperatur ruang. Signal analitik merupakan arus yang diukur pada 680 mV atau -150 mV setelah penambahan S-asetiltiokolin  atau  hidroquinon,  berturut-turut.  Pada  saat  menguji  sampel sebenarnya,  20  µL  serum  darah  disebarkan  pada  daerah  kerja,  setelah  inkubasi, pengukuran  amperometri  dilakukan,  dan  diperoleh  penurunan  signal  menunjukkan pembentukkan  tambahan antibodi DNA yang menurunkan aksesibilitas enzim dalam reaksi enzimatis dengan substrat.  
Suatu  protokol  inovatif  berdasarkan  perubahan  konformasi  oligonukleotida probe telah diajukan akhir-akhir ini (Fan et al. 2003). Probe terdiri dari struktur DNA stem-loop  dengan  penanda  elektroaktif  ferrosin  (28-mer),  diamobilisasi  secara  self-assembling melalui  residu  tiol pada permukaan emas polikristalin. Satuan stem  loop didisain memiliki  lima basa komplementer pada ujung 5’ dan 3’ (empat dari mereka adalah pasangan G-C) sehingga stem-loop dengan kedua ujungnya sangat dekat pada permukaan emas dan menjaga ferrosin pada ujung 5’ dekat dengan permukaan emas. Perubahan besar konformasi dihasilkan setelah hibridisasi karena meningkatnya jarak antara ferrosin dan elektrode, menurunkan signal voltametri dari residu ferrosin (pada 0,492 V. Limit deteksinya adalah 10pM setelah inkubasi 30 menit. Cara  lain  deteksi  listrik  hibridisasi  DNA  adalah  berdasarkan  penggunaan runutan batang mikro  indium yang diperoleh secara elektrodeposisi  logam ke dalam pori  membran  alumina  yang  dilaporkan  oleh  Wang  et  al.  (2003f).  Batang indium/emas  dibuat  dengan  elektroplating membran  alumina  (pori  200 nm)  dengan perak  untuk mendapatkan  kontak  listrik  untuk  elektrodeposisi  selanjutnya.  Setelah pelarutan  membran  dan  penghilangan  residu  DNA  yang  diamobilisasi  dengan penggabungan oligonukleotida bertiolasi terhadap dispersi 2 mL 0,1 mg batang mikro indium/emas  selama 16  jam pada  temperatur  ruang. Deteksi dilakukan  secara  solid-state  derivative  chronopotentiometric  dari  batang  indium  mikrometer  setelah pengumpulan  magnetik  pada  SPE  dilapisi  merkuri  yang  sebelumnya  dikondisikan selama  2  menit  pada  1,8  V  menggunakan  magnet  eksternal  sebelum  penempelan partikel/DNA.  Hibrid  yang  terbentuk  pada  permukaan  magnetic  bead  modifikasi streptavidin  yang mengandung  probe  terbiotinilasi,  diikuti  dengan  interaksi  dengan target  dan  dengan  oligonukleotida  yang mengandung  probe  tambahan.  Selanjutnya, pada saat terbentuk, penanda batang indium diukur 1 menit pra-kondisi pada -0,10 V.


Penentuan dilakukan pada 1 µA. Cara yang lain yang telah dilakukan adalah dengan
melarutkan  konjugat  partikel DNA-linked  dalam  asam  nitrat  6M  dan memindahkan larutan ini ke dalam bufer asetat 100 mL. Penentuan dilakukan pada elektrode carbon fiber dilapisi merkuri. Dengan pengujian ini memungkinkan amplifikasi respons 5625 kali, dan menurunkan  limit deteksi. Limit deteksi diperoleh sekitar 4 ng/L, atau 210 fM, atau 100 fg, atau 10 amol dalam 50 µL larutan.


Penutup
Di Indonesia penelitian di bidang biosensor telah berkembang pesat. Tetapi kebanyakan penelitian di bidang ini berhenti pada tahap publikasi ilmiah di jurnal-jurnal atau seminar-seminar. Dan tidak sampai menyentuh tahap paten/aplikasi untuk di komersialisasikan. Hal ini sangat di sayangkan, padahal penelitian para ilmuwan Indonesia sangat aplikatif semisal tentang penelitian pembuatan biosensor untuk mendeteksi kadar alkohol atau daging hewan tertentu pada produk makanan atau minuman, atau penelitian untuk membuat biosensor yang mampu mendeteksi pestisida, serta berbagai penelitian lainnya. Semuanya ini berpotensi untuk dikembangkan.
Secara kualitatif, kebutuhan akan biosensor di Indonesia sangat besar. Dan diperkirakan permintaan biosensor di pasaran dunia akan selalu meningkat tiap tahun. Sebagai perbandingan, data statistik menunjukkan untuk penjualan sensor di bidang non milter saja pada tahun 2008 akan mencapai 50-51 miliar dolar AS. Hal ini dari sisi ekonomis sangat mengiurkan. Sehingga sudah seyogyanya para peneliti dan pemerintah Indonesia memanfaatkan momentum tersebut untuk dapat merintis dan mengembangkan sistem sensor dengan kreatifitas, langkah dan kebijakan yang lebih baik lagi.


Daftar Pustaka

Day, R. A., Underwood. A.L., (1999), Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta

Pudjaatmaka,A.H., Setiono, L., Vogel, (1994), Kimia Analisis Kuantitatif AnOrganik Edisi Empat,  Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta.

Situmorang, M. (2010) Kimia Analitik Lanjut dan Instrumentasi. Penerbit FMIPA, Unimed; Medan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar